Senin, 04 Mei 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN BORAKS SECARA KUALITATIF PADA MAKANAN

MATA KULIAH  : PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN-A  (PMM-A)
DOSEN               : KHIKI PURNAWATI  KASIM, SST, M.Kes

PEMERIKSAAN BORAKS SECARA KUALITATIF



DI SUSUN OLEH :

FATIMAH TIARA CEET BAHASOAN
PO714221181060





KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI SANITASI LINGKUNGAN
IIB
2020


A. DASAR TEORI
1. Bakso
      Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga baso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak di tawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan dan mall-mall. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai. Bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia hal ini ditunjukkan dari istilah Bakso berasal dari kata Bak-So, dalam Bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti daging babi giling. Karena kebanyakan penduduk Indonesia adalah muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal seperti daging sapi, ikan, atau ayam. Seiring berkembangnya waktu, istilah bakso menjadi lebih dikenal dengan daging giling saja (Wikipedia, 2012).
   Bakso tidak hanya disantap begitu saja, dan sebagian orang beranggapan bahwa rasanya ada yang kurang tanpa pelengkapnya. Bakso dapat disantap dengan aneka taburan, mie, saus, sayuran, dan kerupuk. Tak hanya berfungsi sebagai penambah tekstur dan cita rasa, protein serta karbohidrat, macam-macam pelengkap tersebut juga berfungsi untuk menyeimbangkan nutrisi dan vitamin dalam semangkuk bakso (Rahmadianti, 2013).
2. Boraks
      Boraks merupakan salah satu zat aditif pada makanan. Yakni zat yang ditambahkan dan dicampurkan pada makanan sewaktu pengolahan makanan dengan maksud untuk menarik (pewarna), menambah selera (pemanis), menyedapkan (penyedap), mengharumkan dan sebagai pengawet makanan serta pengenyal. Boraks yang dipergunakan sebagai pengenyal berupa sodium boraks, yang dalam istilah awamnya disebut bleng. Banyak makanan yang berasal dari Jawa mempergunakan bleng sebagai salah satu bahan dasar pengolahan makanan, seperti gendar atau puli, lopis, dan kerupuk gendar atau karak. Memang dari segi rasa, makanan tersebut digemari oleh masyarakat, karena selain enak, gurih, dan kenyal, juga tahan lama. Bleng juga dipergunakan dalam pembuatan bakso dan mi agar kenyal, menggurihkan makanan, serta tahan lama (Aryani, 2006).  Penggunaan boraks ternyata telah disalahgunakan sebagai pengawet makanan, antara lain digunakan sebagai pengawet dalam bakso dan mie. Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi.  Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10  20 g atau lebih (Laetitia, 2006).
3. Kunyit
      Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah-rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), janar (Banjar), kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura), Kunyir (Komering).Kunyit indonesia mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

Dampak mengkonsumsi makanan berboraks
  1. Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.
  2. Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.
  3. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian.
  4. Sering mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian.
  5. Tanda dan gejala akut : Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat).
  6. Tanda dan gejala kronis : Nafsu makan menurun, Gangguan pencernaan, Gangguan SSP : bingung dan bodoh, Anemia, rambut rontok dan kanker.

B. TUJUAN
  1. Dapat mengetahui kandungan boraks pada bakso secara kualitatif
  2. Dapat mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan boraks pada bakso secara kualitatif
  3. Dapat mengetahui cara kerja dalam pemeriksaan boraks pada bakso secara kualitatif

C. ALAT DAN BAHAN
Alat
  • Tusuk gigi
  • Piring/mangkuk
  • Buah kunyit
  • Spidol
  • Tisu

Bahan

  • Bakso

D. CARA KERJA
  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Letakkan bakso ke dalam piring/mangkuk
  3. Ambil buah kunyit kemudian tusuk kunyit menggunakan tusuk gigi dan tunggu hingga 15 detik
  4. Ambil tusuk gigi yang sudah di tusuk tadi
  5. Kemudian tusuk lagi bakso menggunakan tusuk gigi yang sudah di tusuk sebelumnya dan tunggu hingga 15 detik
  6. Setelah 15 detik, ambil tusuk gigi dan letakkan di atas tisu kemudian bandingkan perubahan warna yang terjadi sebelum dan sesudah di tusuk ke bakso

E. HASIL
      Dari pemeriksaan yang dilakukan di rumah masing-masing pada hari sabtu, tanggal 18 April 2020, pukul 13.50 WITA dapat di sumpulkan bahwa bakso yang di ambil negatif boraks atau tidak mengandung boraks karena pada tusuk gigi tetap berwarma kuning atau  tidak mengalami perubahan warna sesudah ditusuk pada bakso.






F. ANALISA HASIL
      Dari periksaan yang saya lakukan pada bakso dengan menggunakan buah kunyit dan bantua tusuk gigi yang di tusukkan ke bakso, ternyata pada tusuk gigi tidak mengalami perubahan warna hal ini menunjukan bahwa bakso tidak mengandung boraks karena jika makan yang mengandung boraks tusuk gigi akan mengalami perunahan warna dari kuning menjadi orange kemerahan dan jika warnanya tetap maka pada makanan tidak mengandung boraks. Pada makanan yang mengandung boraks, warna yang di hasilkan saat bereaksi tergantung banyak atau tidaknya pemakaian boraks pada pada makanan tersebut. Namun, kita harus teliti dalam melihat perubahan warna yang terjadi pada tusuk gigi. Terkadang, warna pada kunyit yang  lebih pekat menyusahkan kita dalam melihat perubahan setelah bereaksi. Semakin banyak boraks yang di pakai maka reaksi tersebut warnanya semakin gelap pekat (orange-merah-coklat). Perbedaan bakso tanpa boraks dan mengandung boraks dapat dilihat dengan beberapa cara, misalnya: Bakso yang mengandung boraks lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks. Bila di gigit akan kembali ke bentuk semula, tahan lama atau awet beberapa hari, warnanya tampak lebih putih, bau terasa tidak alami, bila di lempar ke lantai akan mantul seperti bola bekel. Sedangkan bakso tanpa boraks biasanya hanya bertahan selama 12 jam kalau diletakkan begitu saja, warnanya merata dan sedikit kecoklatan, memiliki bau daging yang alami, dan bila di lempar ke lantai tidak akan memantul.
      Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan disebutkan bahwa bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan diantaranya adalah formalin dan boraks, yang bila mana tanpa sengaja dikonsumsi akan menyebabkan pusing, muntah, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan, gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian. Dan Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian. 

G. KESIMPULAN
      Pemeriksaan boraks pada Bakso dapat disimpulkan bahwa makanan yang mengandung boraks akan berubah warna menjadi orange kemerahan dan bila terlalu banyak digunakan akan menimbulkan warna kecoklatan. Namum setelah melakukan pemeriksaan ternyata bakso negatif boraks atau tidak ditemukan kandungan boraks pada Makanan yang dilakukan menggunakan tusuk gigi yang telah ditusukkan pada kunyit terlebih dahulu.

H. SARAN
      Diharapkan kita juga bisa lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Jangan sampai membahayakan tubuh karena kesalahan kita dalam  mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Saran lain yang dapat dikemukakan pada praktikum ini adalah agar selalu melakukan praktik seperti ini dengan tujuan untuk mendapatkan informasi mengenai bahaya dan dampak dari penggunaan bahan-bahan yang tidak seharusnya digunakan dalam makanan.

I. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Bahaya Boraks dan Formalin pada Makanan, http://gasloy.blogspot.com/,  (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

Laetitia, W., 2006. Formalin dan Boraks Sebagai Zat Pengawet Produk Pangan, http://ut.ac.id/, (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

Raztaman, 2010. Makalah Uji Coba Makanan (Formalin dan Boraks), http://genesha-raztaman.blogspot.com/,  (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

Wikipedia, 2013. Bakso, http://id.wikipedia.com/,  (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

Wikipedia,2016. Kunyit, http://id.wikipedia.org/wiki/kunyit, (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

Yuantari yunita, 2016. UJI BAKSO YANG MENGANDUNG BORAKS DENGAN KUNYIT,http://yovitayuan1707.blogspot.com/2016/04/uji-bakso-yangmengandung-boraks-dengan.html?m=1, (diakses hari rabu tanggal 29 April 2020)

LAPORAN PEMERIKSAAN BORAKS SECARA KUALITATIF PADA MAKANAN

MATA KULIAH  : PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN-A  (PMM-A) DOSEN               : KHIKI PURNAWATI  KASIM, SST, M.Kes PEMERIKSAAN BORA...